PENINGKATAN MUTU DI PINTU GERBANG

Kota Subulussalam merupakan salah satu kota yang berbatasan langsung dengan Provinsi tetangga, Sumatera Utara, dimana letaknya sangat strategis dalam menangkal berbagai isu, baik positif maupun negatif yang akan masuk ke Aceh. untuk itu, perlu peningkatan Sumber Daya Mansuia (SDM) dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) secara lebih profesional dan membumi. Salah satu unsur yang sangat penting dalam rangka menguatkan kedua Sumber Daya tersebut adalah melalui jalur pendidikan. 

Untuk mewujudkan pendidikan atau mutu pendidikan di kota Subulussalam, pihak Pemerintah kota mengajak Universias Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh untuk mengkonkritkan ide-ide atau konsep-konsep atau berbagai agenda yang telah diprogramkan pihak pemerintah kota menjadi suatu kenyataan dan dapat diaplikasikan dan diimplementasikan dalam bentuk nyata.

Keinginan yang direncanakan oleh pemerintah kota Subulussalam ini mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari pihak Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, karena ini salah satu momentum dan juga sebagai salah satu tempat yang sangat strategis dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan tinggi. Dalam hal ini, UIN Ar-Raniry, sebagai salah Perguruan Terbesar di Aceh dengan memiliki sembilan Fakultas dan Program Pascasarjana, lebih dari lima puluh program studi mulai dari Strata satu sampai Strata Tiga (program Doktor). Di samping itu, UIN Ar-Raniry memiliki berbagai lembaga dan pusat studi-pusat studi strategis yang dapat menerapkan dan mengaplikasikan berbagai konsep dan agenda pemerintah kota Subulussalam menjadi konkrit dan dapat dirasakan manfaat langsung oleh masyarakat Subulussalam itu sendiri.

Bukti keseriusan pihak Pemerintah Kota Subulussalam, maka bapak wali kota mengundang pihak Universitas Islam Negeri Ar-Raniry untuk memperpanjang MoU diantara keduanya. Penandatanganan re-MoU tersebut dilaksanakan di kota Subulussalam yang langsung dihadiri oleh Rektor Universitas Islam Negeri  Ar-Raniry, bapak Profesor Dr. H. Warul Walidin AK, MA yang didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama UIN Ar-Raniry, Dr. Saifullah Idris, M. Ag, di Pendopo Wali Kota Subulussalam pada tanggal 8 Januari 2021.

Rektor Universitas Islam Negeri  Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Warul Walidin, S.E., A.k.,M.A., sebagaimana yang dilansir oleh portalsatu.com, mengatakan Bumi Syekh Hamzah Fansuri sebutan Kota Subulussalam merupakan pintu gerbang menuju Sumatera Utara. Maka, Kota Subulussalam wajah pertama yang dilihat oleh masyarakat Sumut ketika masuk ke Aceh, khususnya wilayah barat selatan Aceh. Pintu gerbang ini, memberikan kesan pertama bagi masyarakat luar ketika masuk ke Aceh, mencerminkan wajah Serambi Mekkah. Maka, sangat diperlukan peningkatan dan pengembangan kualitas SDM bagi masyarakat Kota Subulussalam, dengan mendorong para generasi muda untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi mulai S1,S2 hingga S3, salah satunya di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. "Bumi Syekh Hamzah Fansury ini merupakan pintu gerbang Aceh dengan Sumut. Maka perlu kerja keras dalam peningkatan kualitas SDM agar lebih tumbuh berkembang dan lebih maju," kata Rektor UIN Ar-Raniry Prof Warul Walidin saat re-MoU dengan Wali Kota, H. Affan Alfian Bintang, S.E di Meuligoe Subulussalam, Jumat, 8 Januari 2021. Penandatanganan MoU ini terkait peningkatan kualitas SDM, penelitian dan pengabdian masyarakat. MoU ini semakin membesar peluang bagi anak-anak di Bumi Syekh Hamzah Fansuri untuk melanjutkan kuliah di UIN ArRaniry Banda Aceh. 

Dengan MoU tersebut diharapkan ke depan banyak melahirkan alumni Ar-Raniry dari Kota Subulussalam tamatan magester hingga doktor, bahkan melahirkan profesor. Wali Kota Affan Alfian Bintang menyampaikan terima kasih kepada Rektor UIN Ar-Raniry Prof Warul Walidin beserta jajarannya yang telah datang ke Bumi Sada Kata untuk melakukan MoU bidang peningkatan kualitas SDM, penelitian dan pengabdian masyarakat. "Saya mengucapkan berterima kasih kepada Bapak Rektor UIN Ar-Raniry beserta rombongan yang telah datang ke Kota Subulussalam perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan namun karena dorongan semangat untuk peningkatan kualitas SDM, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat khususnya Kota Subulussalam," ungkap Affan Alfian Bintang. Ketua MPD (Majelis Pendidikan Aceh) Kota Subulussalam, Jaminuddin B menyampaikan bahwa dalam menyongsong peningkatan kualitas SDM perlu dilaksanakan MoU bukan hanya untuk SDM yang S1 tapi juga S2 dan S3 nantinya meliputi penelitian, pengabdian dan pengembangan Imtaq dan Iptek. "Sehingga Kota Subulussalam mendatang bisa lebih maju dari daerah lainnya," kata Jaminuddin menambahkan.

Banyak hal yang dapat di tindak lanjuti dalam rangka penguatan mutu pendidikan di Kota Subulussalam ini, Demikian kata bapak wakil rektor Saifullah Idris, diantaranya adalah dengan penguatan Alumni, yaitu membentuk cabang alumni UIN Ar-Raniry di kota ini, melalui beasiswa mulai dari strata satu sampai strataga, dan juga program-program pelatihan lainnya, mulai dari tingkat dasar samapai perguruan tinggi. 

WEBINAR INTERNASIONAL TENTANG PENTINGNYA PERAN INDONESIAN INTERNATIONAL SCHOOL YANGON

 

WEBINAR INTERNASIONAL Di selenggarakan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Myanmar membicara tentang: Indonesian International School Yangon sebagai Institusi Pengemban Misi Diplomasi Pendidikan, Bahasa dan Budaya Bangsa Indonesia di Myanmar.

Pada Acara ini diundang beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia, yaitu: Universitas Brawijaya Malang; Universitas Negeri Padang; Universitas Andalas Padang; Universitas Syiah Kuala Banda Aceh; Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh dan Universitas Al-Muslim Bireun Aceh. Pada kesempatan tersebut semua yang diundang oleh Kedutaan Indonesia di Myanmar ini adalah untuk membicara keberlangsungan Sekolah Indonesia di Myanmar.

Ada beberapa agenda yang di bicarakan di antaranya adalah tentang keberlangsungan Indonesian Internasional School  sebagai alat diploma yang sangat penting diantara kedua Negara. Dengan demikian, keterlibatan semua pihak dan khususnya pihak Universitas adalah sangat diperlukan dan dibutuhkan.

SEMINAR INTERNASIONAL PEMBELAJARAN EFEKTIF DI MASA PANDEMI COVID-19: Reflective Attitude Perspective (Inovasi Teknologi, Riset dan Pendidikan)


COVID-19: Latar Belakang

Covid-19 adalah penyakit pernapasan akut yang disebabkan oleh Coronavirus Sars-Cov-2. Baru-baru ini dinyatakan sebagai penyakit pandemiPada 11 Maret 2020 WHO menyatakan wabah COVID-19 sebagai pandemi, dan kita harus meningkatkan tindakan pencegahan untuk mengendalikan dan memperlambat penularan penyakit sebanyak mungkin. Hasil penelitian, lebih dari 107.600 kasus yang dilaporkan di delapan puluh negara dan 3.650 kematian. Lebih dari 60.600 orang telah mengalami virus dan telah pulih (untuk informasi terbaru, Universitas John Hopkins memiliki peta interaktif dan perincian terkini), dan sekarang lebih banyak lagi. Salah satu langkah penting adalah penutupan semua sekolah, universitas dan lembaga pelatihan dan pendidikan lainnya dan beralih ke pendidikan online. Banyak negara di seluruh dunia telah menutup institusi pendidikan untuk mengurangi penyebaran pandemi ini. Oleh karena itu, Pendidikan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Covid-19 dan pendidikan

Dalam beberapa bulan, belajar dalam bayang-bayang COVID-19, penutupan sekolah berdampak pada lebih dari 1,4 miliar pelajar (UNESCO, 2020). Banyak sekolah dengan sumber daya untuk melakukan hal tersebut telah berporos pada strategi pengajaran jarak jauh darurat (Hodges, Moore, Lockee, Trust, & Bond, 2020) di samping melanjutkan kursus online “tradisional”. Praktis dalam semalam, tampaknya para pendidik di mana-mana berjuang untuk melanjutkan apa yang mereka ajarkan dan bagaimana mereka mengajar secara konsisten, memanfaatkan teknologi jaringan sebagai sumber utama pendidikan. Maka, pembelajaran online adalah cara untuk membatasi penyebaran virus yang menular seperti COVID-19. UNESCO mengatakan bahwa 291 juta anak di seluruh dunia telah terganggu oleh penyebaran COVID-19, dengan penutupan sekolah dasar dan menengah di 13 negara secara nasional dan penutupan sebagian di sembilan negara lainnya. Pembelajaran online adalah respon yang berkembang terhadap penutupan ini. Perguruan tinggi dan universitas yang melihat situasi yang sedang berkembang juga mengeksplorasi pembelajaran online sebagai satu tanggapan, beberapa institusi baru untuk pertama kalinya. Tantangan untuk program pembelajaran dari semua tingkatan (primer hingga tersier) sekarang adalah memungkinkan individu untuk berkembang di dunia yang membutuhkan lebih banyak bakat yang imajinatif, kreatif, inovatif, dan lintas budaya, bukan pekerja generik yang dapat mengisi kursi di kantor atau pabrik . Jalur untuk memenuhi persyaratan ini adalah melalui pengembangan lingkungan sekolah dan pengaturan pembelajaran profesional yang mendorong pembelajaran yang tidak terlihat. Kita terlalu sering berasumsi bahwa motivasi untuk belajar harus ekstrinsik. Artinya, kami telah tumbuh untuk percaya bahwa peserta didik tidak akan belajar apa pun kecuali mereka mengatakan apa yang harus dipelajariSebagian besar pemerintah dunia, yang peduli  terhadap ekonomi mereka dari kekacauan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, melakukan beberapa hal. Lembaga pendidikan, dan pendidik, sebuah paket diluncurkan untuk dicerna dalam dosis bombastis, baik oleh pendidik tanpa pengalaman dengan teknologi digital sebelumnya dan oleh pendidik yang sudah mengadopsi teknologi digital dalam praktik pendidikan mereka hanya dengan satu  tujuan, yaitu  "menyelamatkan" program pendidikanBanyak yang telah berubah sejak saat itu, dan, terutama selama pandemi kesehatan global, kita memerlukan teori operasi untuk pembelajaran yang tidak terlihat lebih dari sebelumnya.  Akibat Pandemi Covid-19, maka banyak yang terjadi dalam dunia pendidikan, yaitu:

  1. Perubahan Luar Biasa
  2. Muncul Polemik
  3. Tantangan Berat

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengatur kegiatan pembelaran selama masa pandemi ini. Hal tersebut dikeluarkan melalui Surat edaran Nomor 4 Tahun 2020, yaitu tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19), tertanggal 24 Maret 2020. Tepatnya ada 6 (enam) kebijakan yang dipaparkan dengan jelas. Namun, yang paling mendasar ialah merubah cara belajar mengajar siswa dan guru adalah kebijakan belajar dari rumah. Kebijakan belajar dari rumah ini sangat merubah kebiasaan, ataupun prilaku guru dan siswa selama ini.

Pembelajaran Yang EFEKTIF (Baik)

  1. Meningkatkan kualitas berpikir (qualities of mind) yaitu berpikir dengan efisien, konstruktif, mampu melakukan judmen (judgment) dan kearifan (wisdom).
  2. Meningkatkan attitude of mind, yaitu menekankan pada keingintahuan (curiosity), aspirasi-aspirasi dan penemuan-penemuan.
  3. Meningkatkan kualitas personal (qualities of person) yaitu karakter (character), sensitivitas (sensitivity), integritas (integrity), tanggungjawab (responsibility).
  4. Meningkatkan kemampuan untuk menerapkan konsep-konsep dan pengetahuan-pengetahuan pada situasi spesifik

PENELITIAN YANG BAIK

Ciri-ciri:

1. Bersifat kritis dan analitis

2. Memuat konsep dan teori

3. Menggunakan istilah dengan tepat dan definisi yang uniform.

4. Rasional

5. Obyektif

Ciri-Ciri lain:

1. Tujuan dan masalah penelitian harus digambarkan secara jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan kepada pembaca.

2. Teknik dan prosedur dalam penelitian itu harus dijalaskan secara rinci.

3. Obyektifitas penelitian harus tetap dijaga dengan menunjukkan bukti-bukti mengenai sample yang diambil.

4. Kekurangan-kekurangan selama pelaksanaan penelitian harus diinformasikan secara jujur dan menjelaskan dampak dari kekurangan tersebut.

5. Validitas dan kehandalan data harus diperiksa dengan cermat.

6. Kesimpulan yang diambil harus didasarkan pada hal-hal yang terkait dengan data penelitian.

7. Obyek atau fenomena yang diamati harus betul-betul sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan motivasi yang kuat dari si peneliti.

8. Coherency, saling kait mengkait antara bagian yang satu dengan bagian yang lain, antara paragraf satu dengan yang lain, antara bab yang satu dengan bab yang lain.

Study literature: Berbagai pembelajaran efektif  dalam menghadapi covid-19 (online)

Alia Ahmed dkk

  1. Menggunakan online apps yang konek dengan peserta didik secara visual
  2. Memodifikasi kuliah secara lebih efektif
  3. Mengadopsi gagasan tentang gamification dan  memasukkan lebih banyak aktivitas online
  4. Mencoba konsep  “flipped Classroom”dan mendorong peserta didik untuk memimpin diskusi tentang topik tertentu.
  5. Mengimplementasikan konsep  ‘self –learning’ dan mengpromosinya melalui kelas online

Aziz Naciri dkk: mobile learning sebagai alternatif:

  1. Metode pembelajaran dapat terjadi dimana-mana dan kapan saja dan tidak terbatas tempatnya.
  2. Pendidik dapat memodivikasi pembelajarannya secara bebas
  3. Peserta didik dapat  belajar secara mandiri

Dapat mengembangkan ketrampilan teknologi, ketrampilan berkomunikasi, mengembangkan rasa kolaborasi, sharing ilmu dll

Joh W. Moravec:

  1. Belajar secara virtual
  2. Mendorong siswa untuk belajar diluar ruang kelas, merubah lingkungan belajar digital, dari top-down (pendidik ke peserta didik) ke learner-ourward (peserta didik ke luar)
  3. Memfasilitasi kontak  antar fakultas/lembaga dengan memanfaatkan teknologi seperti  vidio konferen dan percakapan online
  4. Mengahdirkan produksi pengetahuan lintas budaya sehingga menghasilkan  pengembangan soft skill dalam ruang digital.
  5. Menghadiri formasi yang bermakna, satu persatu dengan peserta didik yang terisolasi karena pandemi
  6. Menciptakan kesadaran secara kelembagaan untuk mempelajari dunia sekitar kita tentang perubahan-perubahan yang terjadi selama covid 19
  7. Mengahdiri event –event internasional secara online sambil mencari metode baru untuk mengevaluasi kreativitas dan inovasi pengembangan ilmu pengetahuan pada level individu dan kelembagaan.

Stephen Murgatrotd: Online learning merupakan cara yang  sangat tepat dalam rangka menghadapi pandemi ini.

  1. Perlu kebijakan
  2. Fasilitas  yang memadai
  3. Memperhatikan  Perubahan tingkah laku peserta didik dan pendidik
  4. Mendesai perencanaan  pembelajaran yang  baik

Membuat evaluasi  baik di sekolah maupun secara nasional

Vera Quiroz:

  1. Bimbingan secara individu
  2. Pendampingan kelompok
  3. Tindak lanjut dan umpan balek yang konstan
  4. Memberi dukungan bagi mereka yang tidak dapat berpatisipasi secara online
  5. Mengembangkan kompetensi kerjasama walaupun dalam masa pengurungan
  6. Mengembnagkan sifat-sifat empati dan kolaborasi

Z. Zayapragassarazan:

  1. keterlibatan siswa sangat penting untuk pembelajaran yang dapat diukur dengan menggunakan sejumlah indikator perilaku.
  2. Indikator perilaku untuk online peserta didik dapat dikategorikan sebagai pembelajaran observasional perilaku dan aplikasi perilaku belajar.
  3. Observasional perilaku belajar termasuk membaca email, membaca diskusi posting, melihat video, melihat catatan kuliah, dokumen, kehadiran virtual terus menerus, dll

pembelajaran aplikasi perilaku termasuk memposting ke forum, menulis surat balasan, mengikuti kuis online dan tes lainnya, memposting pertanyaan, mencari umpan balik, beri umpan balik, cari klarifikasi, posting sumber daya yang dibuat sendiri, membuat pembelajaran terlihat, dll.

Narwan Satra Kelana:

  1. Tetapkan manajemen waktu
  2. Persiapkan teknologi yang dibutuhkan
  3. Belajarlah dengan serius
  4. Jaga komunikasi dengan pendidik dan teman sekelas

I Putu Yoga Purandina

  1. Komunikasi yang berkesinambungan antara pendidik dan peserta didik
  2. Ketepatan informasi
  3. Informasi dan pesan yang disampaikan dapat disetujui oleh peserta didik

Selain itu, pendidik harus melakukan:

  1. Membuat aturan kelas daring
  2. Membangun suasana yang baik dalam diskusi daring
  3. Pendidik tetap menggunakan ekpresi-ekspre verbal maupun non verbal dalam memberikan feedback, reward dan punishment.
  4. Pendidik harus mampu mengaitkan materi dengan situasi kekinian dan terkini.
  5. Menggunakan vido atau animasi yang tidak membosankan
  6. Menggubakan bahasa yang simpel
  7. Memahami kondisi atau keadaan peserta didikinformasi yang diberikan harus jelas.
  8. Pendidik harus menanamkan sikap respek pada peserta didik yang mengalami kesulitan

Peserta didik harus menanamkan jiwa demokratis kepada peserta didiknya.

7 Tips mengajar dari Kemendikbud pada masa Pandemi Covid-19:

  1. Jangan stress
  2. Mencoba untuk membagi kelompok belajar menjadi kelompok kecil-kecil
  3. Mencoba untuk project based learning
  4. Alokasikan waktu yang lebih banyak bagi yang  tertinggal
  5. Fokus terhadap waktu yang paling penting
  6. Saling interaksi dengan sesama pendidik
  7. Have fun

Cara pandang terhadap covid-19

  1. Reflective thinking, revolves around the thinking about a certain subject, content, or problem where a thinker analyzes, estimates, and reconstructs such a thought in the best way possible.
    Berpikir reflektif berkisar tentang pemikiran mengenai subjek tertentu, konten, atau masalah di mana para pakar menganalisis, memperkirakan, dan merekonstruksi sebuah pemikiran dengan cara yang terbaik.
  2. Reflective attitudes tends to lead more to affective aspects. In other words, reflective attitudes prioritize internal aspects such as attitudes that can affect learning and learners internally. However, reflective attitudes, which are the focus of this paper, tend to lead more to affective aspects. bersikap reflektif cenderung lebih mengarah kepada aspek afektif. yaitu sikap reflektif memprioritaskan aspek internal seperti sikap-sikap yang dapat mempengaruhi pembelajaran dan peserta didik secara internal. Namun, sikap reflektif, yang menjadi fokus tulisan disini adalah cenderung mengarah pada aspek-aspek afektif.

Reflective Thinking Vs Reflective Attitudes

Reflective Thinking:

  1. Identifying and finding problem: mengidentifikasi dan menemukan masalah.
  2. Collecting information: mengumpulkan informasi.
  3. Formulating hypothesis: membuat kesimpulan sementara.
  4. Testing the hypothesis: menguji hipotesis.
  5. Evaluating and constructing policy: melakukan evaluasi dan membuat kebijakan

REFLECTIVE ATTITUDES

  1. Open-mindedness: bersikap terbuka, aktif mendengarkan perspektif-perspektif orang lain, mempertimbangkan alternatif-alternatif yang telah diputuskan sebelumnya.
  2. Whole-heartedness: persoalan yang ditemukan akan diselesaikan dengan lebih efektif dan menjadikan sesuatu itu akan lebih mudah.
  3. Responsibility: sifat moral, sikap moral dalam menyerap materi dan menjangkau kemampuan seseorang, memiliki rasa tanggung jawab moral, sikap dan intelektual dalam melakukan berbagai aktivitas.

1.     Open-mindedness (Keterbukaan/pikiran)

a.      A free choice for learners to do unbiased things, bias nature, and away from thoughts that are closed-minded and rigid; (Peserta didik bebas memilih untuk melakukan untuk melakukan hal-hal yang tidak bias, bias secara alami, dan jauh dari pemikiran-pemikiran tertutup dan kaku)

b.     A desire on the part of learners to explore the perspectives or opinions that are different from their own; (sebuah hasrat/keinginan dimana peserta didik dapat mengemukakan perspektif-perspektifnya secara berbeda sesama mereka)

c.      Open to other alternatives, which means that a learner does not perceive that he or she is the most correct one, more than his or her other colleagues. (memiliki alternatif-alternatif, yaitu peserta didik tidak menganggap dirinya yang paling benar dari pada teman-temannya yang lain)

2.     Whole-heartedness (Sepenuh hati)

a.      In resolving issues or problems faced by learners, these issues or problems should be solved effectively; (peserta didik dalam menyelesaikan berbagai isu/masalah yang dihadapinya adalah diselesaikanya secara efektif)

b.     Learners must strive to turn difficult problems into easier problems so that learning does not become intimidating to them (Peserta didik berusaha mengubah isu/masalah yang sulit dalam pembelajaran menjadi lebih mudah sehingga tidak menjadi intimidasi bagi mereka sendiri)

3.     Responsibility (bertangung jawab)

a.      Full support to the desires or interests that appear in learners; (Perlu dukungan penuh terhadap hasrat/keinginan/minat yang muncul pada peserta didik)

b.     Possessing a sense of responsibility in their attitude towards what has been done; (memberikan rasa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap sikap yang telah mereka lakukan)

c.      Learners must have personal integrity as a sense of responsibility for what they have been owned by internalization. (Peserta didik harus memiliki integritas secara personal sebagai rasa bertanggung jawab mereka terhadap apa yang telah mereka miliki melalui internalisasi)

PENDEKATAN: Internalisasi

Internalisasi adalah suatu model pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan. Atau sebuah ide yang mempertahankan individu secara alami untuk menjadikan seseorang yang potensial dalam mencari cara untuk merealisasikan sifatnya secara esensial sebagai makhluk hidup yang istimewa.

Implikasinya

  1. Melahirkan konsep-konsep yang inovatif dan kreatif melalui Open-mindedness
  2. Melahirkan berbagai pendekatan dan metodol0gi yang relevan melalui Whole-heartedness
  3. Menghasilkan teknologi yang inovasi dan kreatif melalui Responsibility
Pembelajaran yang efektif sebagai way of life dalam dunia pendidikan, walaupun dihantui dan diserang oleh Covid-19. ini ditempuh melalui pendekatan Internalisasi.

PENGEMBANGAN MASYARAKAT DESA TERINTEGRASI (Tindak lanjuti kerja sama, MoA, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry dengan Pemkab Aceh Jaya).


Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama  kembali menindak lanjuti kerja sama dengan Pemkab Aceh Jaya. Pada saat tersebut pertemuan antara Sekda Aceh Jaya dengan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama di Aula Kantor Bupati Aceh Jaya.  Pada kesempatan tersebut, Ada beberapa kerja sama yang ditindak lanjuti ke depan di antaranya dalam waktu dekat ini pengiriman mahasiswa untuk Kuliah Pengabdian Mmasyarakat ( KPM ) sekitar dua ribuan mahasiswa/I  Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh akan ditempatkan di kawasan Aceh Jaya selama satu bulan setengah. Disamping itu, ke depan ada beberapa kerja sama yang di laksanakan yaitu dengan Baitul Mal Aceh Jaya, membantu Dinas Pendidikan Aceh Jaya dalam program satu mutu untuk sekolah di Aceh Jaya, Riset mahasiswa dalam berbagai bidang keilmuan lain seperti Hak Kekayaan Intelektual bagi guru, pengelolaan Laboratorium, dan desai tata ruang lokasi sekolah dan juga Dayah yang ada di Aceh Jaya. Kerja sama antara UIN Ar-Raniry juga dengan Dinas Kebersihan dan lingkungan hidup Aceh Jaya tentang Pengelolaan sampai dan lain-lain. Tindak lanjut kerja sama UIN Ar-Raniry dengan Dinas Dayah, Dinas Syariah Islam tentang rekolasi dan pemanfaatan lokasi wisata sebagai perkempungan Syariat. Hal ini ditindaj lanjut antara UIN Ar-Raniry dengan Dinas Syariah Islam Aceh Jaya. Selanjutnya juga akan ditindak lanjut dengan Dinas Pertanian dan Dinas Dispora dan Wisata Aceh Jaya. Dengan Dinas Pertanian akan dilihat beberapa lokasi atau lahan yang tidak produktif akan dikelola menjadi lahan produktif. Ini melibatklan Kopreasi Al Jamiah UIN Ar-Raniry. Demikian juga dengan Dinas Dispora dan Wisata akan dikembangkan beberapa lahan yang selama ini tidak produktif akan dijadikan lahan produktif, baik seabai lahan pengembangan berbagai komuditi unggulan maupun tenpat wisata yang dikemas dengan model  yang berorientasi pada pengembangan kawasan wisata halal atau sering disebut dengan Halal Tourisme . selain itu, Koperasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry dengan Dinas pariwisata Kabupaten dan gampong yang ada di Kabupaten Aceh Jaya, serta pengembangan ekonomi masyarakat berbasis syariah. Sebelumnya juga telah terlaksana MoA antara Universitas Islam Negeri Ar-Raniry dengan Pemkab Aceh Jaya yaitu pendirian bank BPR Syariah yang langsung bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry ungkap Dr.Saifullah, M.Ag yang membidangi bidang Kemahasiswaan, aAlumni  dan Kerja sama Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Dalam pertemuan tersebut turut hadir dari pihak Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, di antaranya adalah Wakil Rektor III yaitu Dr. Saifullah. M.Ag ; Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum Saifuddin Sa'dan M.Ag; serta Kasubbag kerja sama, Drs. Fakhri Umar, MA serta turut hadir juga anggota pengawas Koperasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Kharul Halim, M,Ag dan Staf Ahli khusus luar negeri , Lazuardi, MA, Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Sedangkan dari pihak pemkab Aceh Jaya ikut hadir dan langsung di pimpin oleh Sekda yaitu Drs. H. Mustafa, S.Pd. M.A.P, Asisten I, Kepala Bappeda, serta beberapa SKPK seperti Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pertanian, kepala Dinas Syariat Islam, Kepala Dinas Pendidikan Dayah serta Beberapa Kepala Dinas Lainnya di lingkungan Pemkab Aceh Jaya. Dalam sambutannya Sekda Aceh Jaya sangat mengapresiasi kerja sama ini untuk pengembangan pemerintah kabupaten Aceh Jaya dari berbagai sektor demi meningkatkan sumber daya manusia serta adanya pengembangan kampung terpadu nantinya. Selanjutnya Kedepan sekda berharap MoU ini terus berlanjut di berbagai sektor karena perlu inovasi dan ilmu baru dalam pengembangan jangka panjang ke depan agar masyarakat kedepan lebih terdidik.
Mengingat dan dalam rangka menhadapi berbagai tantangan yang ada pada era industry 4.0 ini, maka sangat diharapkan semua bidang dan keahlian yang ada baik dari pihak akademisi, yaitu UIN Ar-Raniry dan juga yang ada di Pemkab Aceh jaya harus bekerja sama dalam mengembangkan perekonomian masyarakat. Selama ini, demikian sekda Aceh Jaya, ada beberapa hal yang telah dilakukan oleh Pemkab Aceh Jaya untuk mengembangkan perekonomian masyarakat dan  pemasukan sisi finansial bagi kabupaten Aceh Jaya, diantaranya adalah menjadikan Aceh Jaya sebagai pintu masuk perekonomian Barat-Selatan, yaitu penggunaan pelabuhan Aceh Jaya sebagai elabihan ekport berbagai komuniditi dikawasan Barat-Selatan.
Ini merupakan salah satu agenda yang sangat penting yang harus dilakukan oleh semua lembaga atau instutisi, baik pemerintah, swasta, akademisi dan juga pihak birokrasi dalam mengahdapi berbagai tantangan era milinial ini. Disamping itu, era 4.0 ini juga merupakan era kreativitas bagi berbagai masyarakat dan institusi yang terlibat di era ini. Tidak hanya cukup dengan kolaborasi dan kreativitas, juga harus dimiliki oleh generasi sekarang adalah menjadi dirinya sebagai orang atau masyarakat yang mensposori berbagai bidang dan keahliannya sebagai orang yang pertama di kawasannya supaya apapun yang diprogramkan tidak sia-sia dan bahkan tidak menyentuh sama sekali apa yang diinginkan oleh masyarakat setempat. Demikian, maka diperlukan satu keahlian lagi, yaitu menjadi dirinya sebagai seseorang atau masyarakat yang menemukan berbagai kreativitas yang different dengan orang lain atau masyarakat yang ada dikawasan lainnya. Itulah beberapa hal yang dapat diimplimentasi secara nyata dan konkrit dalam rangkan pengembangan perekonomian atau bidang lainnya pada masyarakat baik yang ada di desa maupun diberbagai kawasan atau lokasi lainnya.

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (Kementerian Agama RI)

Tulisan ini adalah beberapa pemikiran disampaikan pada Diklat Kementerian Agama provinsi Aceh pada tanggal 8 Februari 2020. Sebelum menyampaikan beberapa pemikiran tentang pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan Kementerian Agama provinsi Aceh, sebaiknya di sampai beberapa hal yang menurut penulis sangat urgen, yaitu tentang visi, misi dan berbagai fungsi dan tugas kementerian Agama dalam menjalankan tugas-tugas. Pertama sekali adalah tentang VISI Kementerian Agama RI, "Terwujudnya Masyarakat Indonesia yang Taat Beragama, Rukun, Cerdas, dan Sejahtera Lahir Batin dalam rangka Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong" (Keputusan Menteri Agama Nomor 39 Tahun 2015), kemudian tentang MISI Kementerian Agama RI, yaitu: 1) Meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama; 2) Memantapkan kerukunan intra dan antar umat beragama; 3) Menyediakan pelayanan kehidupan beragama yang merata dan berkualitas; 4) Meningkatkan pemanfaatan dan kualitas pengelolaan potensi ekonomi keagamaan; 5) Mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah yang berkualitas dan akuntabel; 6) Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan umum berciri agama, pendidikan agama pada satuan pendidikan umum, dan pendidikan keagamaan; dan 8) Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan terpercaya (Keputusan Menteri Agama Nomor 39 Tahun 2015)
TUJUAN sebagai Penjabaran Visi dan Misi adalah Bidang Agama: 1) Peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan beragama; 2) Pengukuhan suasana kerukunan hidup umat beragama yang harmonis sebagai salah satu pilar kerukunan nasional; 3) Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kehidupan beragama yang berkualitas dan merata; 4) Peningkatan pemanfaatan dan perbaikan kualitas pengelolaan potensi ekonomi keagamaan dalam meningkatkan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan percepatan pembangunan; 5) Peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji dan umrah yang trasparan dan akuntabel untuk pelayanan ibadah haji yang prima; dan 6) Peningkatan kualitas tata kelola pembangunan bidang agama dalam menunjang penyelenggaraan pembangunan bidang agama yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel.
Bidang Pendidikan, di antaranya adalah: 1) Peningkatan akses pendidikan yang setara bagi masyarakat tidak mampu terhadap pendidikan dasar-menengah (wajib belajar 12 tahun); 2) Peningkatan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat pada berbagai jenjang pendidikan; 3) Penurunan tingkat kegagalan masyarakat dalam menyelesaikan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar-menengah (wajib belajar 12 tahun); 4) Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang pendidikan; 5) Peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan dalam melakukan proses mendidik yang profesional di seluruh satuan pendidikan; 6) Peningkatan akses masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan agama pada satuan pendidikan umum yang berkualitas; dan 7) Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan keagamaan yang berkualitas.
FUNGSI dari Kementerian Agama itu sendiri adalah: 1) perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang bimbingan masyarakat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu, penyelenggaraan haji dan umrah, dan pendidikan agama dan keagamaan; 2) koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Agama; 3) pengelolaan barang milik/kekayaan Negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Agama; 4) pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Agama; 5) pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Agama di daerah; 6) pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah; 7) pelaksanaan pendidikan, pelatihan, penelitian, dan pengembangan di bidang agama dan keagamaan; 8) pelaksanaan penyelenggaraan jaminan produk halal; dan 9) pelaksanaan dukungan substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Agama.
Selanjutnya ada delapan  POIN Program Prioritas Pengembangan Sumber Daya Manusia di Lingkungan Kementerian Agama menurut menteri Agama, yaitu: 1) Peningkatan kualitas kesalehan umat beragama; 2) Penguatan moderasi dan kerukunan umat Beragama; 3) Penyediaan layanan keagamaan yang adil dan merata; 4) Peningkatan pemberdayaan kelembagaan sumber daya ekonomi umat; 5) Perluasan akses pendidikan umum berciri khas agama, pendidikan agama dan keagamaan; 6) Peningkatan kualitas pengelolaan dan mutu pendidikan umum berciri khas agama, pendidikan agama, dan keagamaan; 7) Penguatan produktivitas dan daya saing pendidikan keagamaan; dan 8) Peningkatan kualitas tata kelola yang efektif dan akuntabel,” katanya melalui keterangan resmi
Selain itu ada beberapa yang harus juga diperhatikan dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan Kementerian Agama adalah  MAKNA PENGEMBANGAN. Pengembangan: suatu usaha meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/Jabatan melalui pendidikan dan pelatihan, Pendidikan: suatu usaha untuk meningkatkan keahlian teoritis, konseptual dan moral karyawan, sedangkan latihan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis pelaksanaan pekerjaan karyawan (Malayu, 2001).
TUJUAN dari PENGEMBANGAN itu adalah: Produktivitas kerja, Efisiensi, Kerusakan, Kecelakaan, Pelayanan, Moral, Karier, Konseptual, Kepemimpinan, Balas jasa, dan Konsumen.
JENIS-JENIS PENGEMBANGAN adalah diantaranya Informal Karyawan atas keinginan dan usaha sendiri melatih dan mengembangkan diri. Caranya dengan mempelajari buku-buku literature yang ada hubungannya dengan pekerjaan/jabatannya. Formal Karyawan ditugaskan perusahaan untuk mengikuti pendidikan atau latihan. Disini diklat bisa dilakukan perusahaan sendiri atau dengan mengirimkan keluar ke perusahaan lain (Winarsih, 2014:19)
METODE PENGEMBANGAN dibagi kepada Metode latihan atau training, diberikan kepada karyawan operasional. Dan Metode pendidikan atau education, diberikan karyawan manajerial.
METODE LATIHAN, seperti on the job/pekerjaan, Vestibule/ruang depan. Demonstration and example. Simulation, Apprenticeship/magang, dan Classrom methods
METODE PENDIDIKAN disini seperti: Under study, Job rotation and planned progression, Coaching and counseling, Junior board  of executive or multiple management, Committee assignment, dan Business games.
HAKIKAT Sumber Daya Manusia adalah Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja di lingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan). Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya. Sumber daya manusia adalah potensi yang merupakan aset dan berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) didalam organisasi bisnis, yang dapat mewujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non-fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi. (Nawawi (2005)
TUJUAN PENGEMBANGAN Sumber Daya Manusia adalah membentuk individu dari aspek-aspek ketrampilan, pengetahuan dan sikap; pengembangan karir; mengatur dan membina manusia sebagai sub sistem organisasi melalui program-program perencana dan penilaian seperti perencanaan tenaga kerja, penilaian kinerja, analisis pekerjaan, dan klasifikasi pekerjaan; mendapat Sumber Daya Manusia sesuai klasifikasi kebutuhan organisasi dan alat organisasi yang bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan; dan penyesuaian sistem dan kebijakan organisasi sebagai penangkal risiko dan faktor eksternal.
Sumber Daya Manusia yang  OPTIMAL adalah  Seleksi sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan; Merancang keselarasan antara kebutuhan organisasi dan kompetensi karyawan; Menyediakan sarana, prasarana dan teknologi yang sesuai; Komitmen yang tinggi dari setiap elemen organisasi. (Jumawan, 2015)
Sumber Daya Manusia yang harapkan pada era industry 4.0 adalah harus memiliki kemampuan berpikir Filosofis-konseptual, memiliki Framework-teoritis, mempunyai Strategi-metodologis dan menghasilkan Teknologi yang unggul.