JAKARTA GEOPOLITICAL FORUM II/2018 "MAPPING THE FUTURE OF GEOPOLITICS"


Beberapa agenda yang disampaikan pada acara Jakarta Geopolitical Forum II, di Jakarta, diantara adalah:
1.   Kegiatan ini bernama Program of Jakarta Geopolitical Forum II/2018 dengan tema “Mapping the Future of Geopolitics” yang dilaksanakan di Hotel The Ritz-Calrton, Tanggal 23 s/d 24 Oktober 2018, dimulai dengan Welcoming Dinner tanggal 23 Oktober 2018, jam 19.30 s/d 21.00.
2.   Acara tersebut dilaksanakan hari kedua dengan diawali Opening Session dengan Welcoming Remarks oleh Gubernur Lemhanas Letjen (Pur) Agus Wijaya, dilajutkan dengan Opening Address oleh Menteri Luar Negeri RI, L. Retno Marsudi, berikut presentasi: Geopolitical Overview oleh Duta BesarProf. Dr. Dorojatun Kuntjoro Jakti.
3.   Pada Sessian I tampil Pembicara:
a.   Mr. Lyle J. Morris (Senior Policy Analysist at the Rand Corporation) dengan pembahasannya tentang “Trade War: Resetting US-China Trade Relations for Regional Economic Stability”.
b.   Mr. Phillipe Raggi, (Direktur of the Asia Department, L’Academie International de geopolitique), dengan topik  “Belt and Road Initiative: Challenge or Opportunity for the Asia Connectivity Strategy”.
c.   Ms. Zhixing Zhang, (Geopolitical Department Asia Pacific at Stratfor), dengan topik “Indo-Pacific: Peace and Security in the Region”.
Acara ini di dipimpin oleh: Mr Agung Iriantoko, International Political Analyst.
4.   Pada Session II, menampilkan beberapa pembahas lainnya, yaiyu:
a.   Mr. Shigehisa Kasahara, (Former Economic Affairs Officer of the UNCTAD), dengan topik “ Trade War: Its Implication to the Global Geoeconomics and Geopolitics”.
b.   Ms. Natalie Sambhi, Ph. D (Candidate Strategic and Defense Studies Center, Australian National University and Research Fellow, Oerth US Asia Center), dengan topik “Indo Pacific Beyond the Axus of Inter-Subregions in Asia-Pacific”.
c.   Mr. Pang, Zhongying (Director Cntre for tha Study of Global Governance, School of International Studies, Renmin University of China, Beijing), dengan topik “BRI and Its Implication to the Indo-Pacific”.
d.   Mr. Kevin G. Nealer, (Center for Strategic and International Studies, CSIS), dengan topik “Persistence of the Global Risk”.
Session ini dipimpin oleh H.E, Imron Cotan, Former Indonesian Ambassador to China (2010-2013).
5.   Pada Clossing Session, diakhiri dengan Clossing Remark oleh Letjend Agus Wijoyo, Gubernur Lamhanas.
Untuk selengkapnya, berita ini silakan dibaca pada:
https://makassar.antaranews.com/nasional/berita/761592/inklusivitas-indo-pasifik-yang-ditawarkan-harus-wakili-negara-kecil?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews Jakarta (ANTARA News) - Peneliti dari Perth USAsia Centre, Australia, Natalie Sambhi mengatakan konsep Indo-Pasifik terbuka dan inklusif yang ditawarkan Indonesia harus mewakili kepentingan negara-negara kecil.
"Dalam praktiknya, saya rasa dalam istilah diplomatik, inklusivitas berarti mengadvokasi demi kepentingan negara-negara lain yang lebih kecil," kata Natalie yang menjadi salah satu pembicara dalam Jakarta Geopolitical Forum 2018 di Jakarta, Rabu.
Kandidat PhD pada Strategic and Defence Studies Centre, Australian National University, itu berharap Indonesia meningkatkan peran advokasinya terutama menyangkut isu-isu yang menjadi kepentingan bersama seperti perubahan iklim dan ancaman revolusi teknologi.
Kedua isu tersebut juga harus diperhatikan dalam pengembangan konsep Indo-Pasifik, selain pembahasan utama tentang persaingan strategis antara AS dan China dan tentunya sengketa Laut China Selatan.
"Semakin banyak persoalan di tingkat masyarakat yang menghubungkan kita semua. Dan isu-isu semacam ini dapat merusak perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik," kata Natalie.
Indonesia, menurut dia, memiliki peluang menjembatani kekuatan besar seperti AS dan China dengan meletakkan kepentingan dan sentralitas ASEAN yang berada di tengah-tengah kawasan, dalam pengembangan konsep Indo-Pasifik.
Upaya diplomasi yang konsisten dilakukan Indonesia untuk meyakinkan bahwa inklusivitas adalah kunci menuju kesejahteraan dan perdamaian, merupakan peran yang harus terus ditingkatkan.
"Berdasarkan pengalaman, Indonesia akan dapat mengadvokasi isu-isu prioritas yang mendesak untuk diselesaikan, utamanya di ASEAN," ujar Natalie. Dalam forum yang sama, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan konsep Indo-Pasifik terbuka, transparan, dan inklusif yang ditawarkan Indonesia.
Konsep Indonesia mengenai Indo-Pasifik menjanjikan situasi geopolitik yang saling menguntungkan dengan mengutamakan kolaborasi untuk kepentingan bersama termasuk penciptaan pusat pertumbuhan baru.
Penguatan kerja sama di kawasan Indo-Pasifik merupakan isu strategis bagi Indonesia dan ASEAN yang terletak di tengah-tengah dua kawasan yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Indonesia akan mengarahkan konsep Indo-Pasifik untuk meningkatkan kerja sama bidang maritim, konektivitas, dan agenda pembangunan berkesinambungan. 
Konsep Indo-Pasifik yang coba ditawarkan Indonesia bertujuan menghubungkan kawasan Samudera Pasifik yang sudah memiliki infrastruktur dan kerja sama yang sudah baik, dengan kawasan Samudera Hindia yang mulai dibangun kerja samanya melalui Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA). Dengan menghubungkan kedua kawasan tersebut, menurut Menlu, diharapkan tercipta pusat-pusat pertumbuhan baru di negara-negara anggota IORA.
Ini beberapa agenda yang diikuti pada acara Jakarta Geopolitical Forum II tersebut, semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan juga lembaga dimana saya mengabdi.